Sabtu, 30 Juni 2018

Fenomena memberi nama anak di Indonesia


Manusia dan budaya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Adanya budaya karena adanya manusia itu sendiri. Manusia menciptakan budaya untuk memudahkan kehidupannya terutama dalam bermasyarakat. Jika ada yang tidak sesuai dengan budaya di komunitas masyarakat setempat maka akan dianggap aneh, minimal terlihat aneh. Ini hanya budaya yang normatif yah.

Salah satunya adalah budaya memanggil nama di Indonesia. Biasanya masyarakat kita memanggil nama hanya satu penggalan kata yang mudah dilafazkan, enak diucap dan enak didengar. Misalnya nama saya jefry maka saya dipanggil jef, atau missal andi dipanggi di, hasan dipanggil has atau san, rohman dipanggil man, ga mungkin roh.


Nah, dalam islam biasanya memberikan nama yang dicintai Allah, nama orang-orang soleh, nama yang mengandung doa yang artinya bagus. Kalau di Arab biasanya memanggil nama itu full tidak dipenggal-penggal katanya, bahkan kadang ditambah kata seruan. Misal nama yang dicintai Allah itu Abdullah dan Abdurrahman kalau di Arab di panggil Abdullah juga atau yaa Abdullah. Kalau di Indonesia bisa di panggil dulloh aja. Realiatanya emang begitu.

Yang kedua memberi nama ingin seperti nama orang-orang soleh. Kalau dikasih nama Ahmad biasanya akan jadi amat dipanggil mat, kalau Ibrahim biasanya akan jadi baim dipanggil im, atau ada yang ingin memberi nama Usamah, atau Mushab, atau yang sekarang sedang fenomenal tokoh pemimpin islam masa kini yaitu Erdogan, itu gimana manggilnya. Misal Erdogan, ada tiga penggalan katanya. Kalau panggil penggalan pertama yang cadel gimana, penggalan kedua ga mungkin, penggalan ketiga, Mantap gan.

Terakhir, ini nih biasanya yang agak aneh, nama-nama yang mengandung doa yang artinya bagus. Biasanya dalam satu divisi organisasi yang saya ikuti namanya arab semua, saya aja yang barat. Kadang suka bingung panggilnya apa. Misal ada nama Gofururohim, atau Mawaddah warohmah, dan nama-nama yang semisal itu, mau dipanggil apa coba.

Sangat baik memberi nama-nama seperti di atas, kalau aja ditambah juga dengan nama panggilan sesuai dengan budaya kita yaitu ada penggalan kata yang mudah dilafazkan dan ga aneh-aneh. Misal mau memberi nama Abdullah ditambah hasan jadi Abdullah Hasan, kalau mau Erdogan ditambah Adit misalnya didepan jadi Adit Erdogan dan lain-lain. Masih banyak nama-nama dengan bahasa Arab yang mudah dilafazkan penggalan katanya, jangan pilih yang susah-susah atuh. Lagipula nama lokal kita bagus-bagus, misal Asep di Sunda, Joko di Jawa dll.

Jangan karena ego sebagai orang tua hanya ingin memberi nama yang artinya bagus, doa supaya namanya seperti orangnya, lantas malah menzolimi anak. Kan memberi nama anak supaya gampang dipanggil sama temen-temen, gampang diucap dan enak didenger. Karena yang paling penting adalah ikhtiar orang tua dalam mendidik dan mengarahkan anak supaya berbakti dan soleh solehah. Wallahu’alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar