Manusia dan
budaya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Adanya budaya karena adanya
manusia itu sendiri. Manusia menciptakan budaya untuk memudahkan kehidupannya
terutama dalam bermasyarakat. Jika ada yang tidak sesuai dengan budaya di
komunitas masyarakat setempat maka akan dianggap aneh, minimal terlihat aneh.
Ini hanya budaya yang normatif yah.
Salah
satunya adalah budaya memanggil nama di Indonesia. Biasanya masyarakat kita
memanggil nama hanya satu penggalan kata yang mudah dilafazkan, enak diucap dan
enak didengar. Misalnya nama saya jefry maka saya dipanggil jef, atau missal
andi dipanggi di, hasan dipanggil has atau san, rohman dipanggil man, ga
mungkin roh.
Nah, dalam
islam biasanya memberikan nama yang dicintai Allah, nama orang-orang soleh,
nama yang mengandung doa yang artinya bagus. Kalau di Arab biasanya memanggil
nama itu full tidak dipenggal-penggal katanya, bahkan kadang ditambah kata
seruan. Misal nama yang dicintai Allah itu Abdullah dan Abdurrahman kalau di
Arab di panggil Abdullah juga atau yaa Abdullah. Kalau di Indonesia bisa di
panggil dulloh aja. Realiatanya emang begitu.
Yang kedua
memberi nama ingin seperti nama orang-orang soleh. Kalau dikasih nama Ahmad
biasanya akan jadi amat dipanggil mat, kalau Ibrahim biasanya akan jadi baim
dipanggil im, atau ada yang ingin memberi nama Usamah, atau Mushab, atau yang
sekarang sedang fenomenal tokoh pemimpin islam masa kini yaitu Erdogan, itu
gimana manggilnya. Misal Erdogan, ada tiga penggalan katanya. Kalau panggil
penggalan pertama yang cadel gimana, penggalan kedua ga mungkin, penggalan
ketiga, Mantap gan.
Terakhir,
ini nih biasanya yang agak aneh, nama-nama yang mengandung doa yang artinya
bagus. Biasanya dalam satu divisi organisasi yang saya ikuti namanya arab
semua, saya aja yang barat. Kadang suka bingung panggilnya apa. Misal ada nama
Gofururohim, atau Mawaddah warohmah, dan nama-nama yang semisal itu, mau
dipanggil apa coba.
Sangat baik
memberi nama-nama seperti di atas, kalau aja ditambah juga dengan nama
panggilan sesuai dengan budaya kita yaitu ada penggalan kata yang mudah
dilafazkan dan ga aneh-aneh. Misal mau memberi nama Abdullah ditambah hasan
jadi Abdullah Hasan, kalau mau Erdogan ditambah Adit misalnya didepan jadi Adit
Erdogan dan lain-lain. Masih banyak nama-nama dengan bahasa Arab yang mudah
dilafazkan penggalan katanya, jangan pilih yang susah-susah atuh. Lagipula nama
lokal kita bagus-bagus, misal Asep di Sunda, Joko di Jawa dll.
Jangan
karena ego sebagai orang tua hanya ingin memberi nama yang artinya bagus, doa
supaya namanya seperti orangnya, lantas malah menzolimi anak. Kan memberi nama
anak supaya gampang dipanggil sama temen-temen, gampang diucap dan enak
didenger. Karena yang paling penting adalah ikhtiar orang tua dalam mendidik
dan mengarahkan anak supaya berbakti dan soleh solehah. Wallahu’alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar