Tampilkan postingan dengan label Tausyiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausyiah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2016

Makna As Sunnah



Menurut bahasa, sunnah berarti metode atau jalan, yang mencakup makna konotasi positif maupun negatif. Makna lain dari sunah secara bahasa adalah kebiasaan, syariat, contoh terdahulu, dan adat.
Manusia adalah musuh bagi sesuatu yang tidak ia ketahui. Begitulah makna sebuah pepatah Arab. Inilah yang menimpa sebagian orang dalam memaknai kata sunnah. Merekacenderung salah kaprah dalam memahami arti sunnah. Mereka hanya memaknai sunnah sebagai suatu amalan yang apabila dilakukan memperoleh pahala, dan jika ditinggalkan maka tidaklah mengapa. Pemahaman seperti ini meskipun lahir dari sebagian definisi yang berkembang dalam diskursus fikih, namun apakah dimaknai sesempit itu? Terkadang pemahaman saklek seperti ini dapat menggiring seseorang malas untuk mengerjakan suatu amalan yang berpahala besar, bahkan wajib, hanya dengan berasumsi ditinggalkan tidaklah berkonsekuensi apa-apa.

Oleh sebab itu, penting kiranya kita memaknai apa sebenarnya definisi sunnah, serta meluruskan salahkaprah yang telah mengakar dalam benak sebagian orang.


Makna Sunnah Secara Bahasa

Jika dipandang dari sudut etimologi atau bahasa, sunnah berarti metode atau jalan. Hal ini dapat disimpulkan dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Barang siapa yang mencontohkan jalan yang baik di dalam Islam, maka ia akan mendapat pahala dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang mencontohkan jalan yang jelek, maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim: 2398)

Sabtu, 16 Juni 2012


ISLAM, AGAMA PERDAMAIAN

Hampir semua agama memiliki sejarah peperangan. Ia telah ada dan berlangsung dalam waktu lama dan hampir di seluruh kawasan dunia. Pada 1891, lebih dari 10.000 penduduk Yahudi diusir dari Rusia. Bahkan ada pogrom yang didalangi Kementrian Dalam Negeri, orang Yahudi dibunuh dan dirampok. Begitu juga penindasan terhadap umat Yahudi di Eropa ketika kaisar Romawi memeluk Kristen.
Sejarah juga mencatat terjadinya Perang Salib (Crusade), yaitu perang untuk membela kepercayaan agama Kristen, dan merebut Tanah suci Yerussalem dari penguasa Islam.
Sekitar tahun 1950 terjadi pembantaian orang-orang Muslim oleh kelompok Hindu Fundamentalis radikal di Hindia. Salah satu ladang pembantaian kaum muslimin yang paling hebat adalah Heydrabad. Tidak kurang dari 350 ribu umat Islam tewas tewas di lading Heydrabad tersebut.
Peperangan dalam Islam sudah dimulai sejak awal ketika Nabi Muhammad mendakwahkan ajaran Islamnya ke tengah masyarakat Arab. Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad pertama-tama banyak mendapat penolakan dari masyarakat sekita, bahkan dari paman-pamannya sendiri. Berbagai jenis tuduhan negatif kerap diterima Nabi Muhammad.
Tidak tahan dengan caci maki suku Quraisy Mekah, Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Namun, sekalipun Nabi dan pengikutnya sudah hijrah, penyerangan tetap datang mengancam umat Islam. Para sejarawan Islam menyimpulkan penyerangan yang dilakukan Nabi dan kelompoknya lebih merupakan pertahanan diri bukan karena ingin menyerang terlebih dahulu.

Senin, 04 Juni 2012

Orang-Orang Yang Menang


Orang-Orang Yang Menang
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَأَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا حَمَّادٌ وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ وَلَيْسَ فِي حَدِيثِ قُتَيْبَةَ وَهُمْ كَذَلِكَ
Sa’id bin Manshur, Abu ar-Rabi’ al-’Ataki, dan Qutaibah bin Sa’id menuturkan kepada kami. Mereka mengatakan; Hammad (yaitu Ibnu Zaid) menuturkan kepada kami dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Abu Asma’ dari Tsauban, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang menang di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang lain yang menyia-nyiakan mereka hingga datang ketetapan Allah sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” Sedangkan di dalam haditsnya Qutaibah tidak disebutkan kata-kata, “Sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah, hadits no. 1920. Lihat Syarh Nawawi [6/544])
Hadits yang mulia ini menunjukkan berbagai pelajaran penting bagi kaum muslimin, di antaranya :
  1. Kewajiban mengimani sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menceritakan perkara gaib yang menyangkut perkara yang telah lalu maupun yang akan datang
  2. Allah ta’ala menjaga agama ini dari perusakan dan penyimpangan dengan menghidupkan para pembela kebenaran, meskipun banyak orang yang memusuhi mereka
  3. Barisan terdepan pembela kebenaran tersebut adalah para ulama, terlebih khusus lagi para ulama ahli hadits di sepanjang perjalanan masa. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Seandainya mereka itu bukanlah ahli hadits maka aku tidak tahu lagi siapa yang dimaksud dengan mereka itu.” al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ucapan Ahmad adalah ahlus sunnah wal jama’ah dan orang-orang yang meyakini madzhab ahli hadits.” (Syarh Nawawi [6/545])

Jumat, 25 Mei 2012

Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu…..!!!

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” (HR Muslim no 2878)
Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ “Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu” (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ As-Shogiir 2/859)
Para pembaca yang budiman… kita semua tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba…tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat…, apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat… semuanya terjadi tiba-tiba…


Seorang penyair berkata :

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي***  إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ
Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…
Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari

Rabu, 02 Mei 2012

Amalan menjelang kiamat


Amalan menjelang kiamat
 
Rasulullah saw pernah bersabda:
“Segeralah beramal sebelum datang tujuh perkara; apakah kalian akan menanti sampai datang kemiskinan yang melupakan, atau kaya yang membuat sombong, atau sakit yang merusak kehidupan, atau tua yang melemahkan kekuatan, atau kematian yang menyegerakan, atau datangnya dajjal, makhluk gaib yang paling buruk dinanti, atau datangnya hari kiamat, hari yang sangat dahsyat dan mengerikan” (HR. Turmizi)

1 – Beramal sebelum kemiskinan melilit
Kemiskinan sering membuat orang lupa dengan akhirat, lupa dengan Allah, lupa dengan tujuan hidupnya yang sesungguhnya dan lupa beramal baik untuk masa depannya yang abadi, karena seseorang yang dililit oleh kemiskinan selalu disibukan oleh usahanya mencari makan dan minum untuk menyambung hidupnya, mencari tempat tinggal untuk menaungi dirinya dari siraman hujan dan sengatan terik matahari, mencari pakain untuk menutupi tubuhnya.
Bahkan karena kemiskinan tanpa keimanan yang kuat dan demi sesuap nasi, seseorang bisa mencuri, merampas harta orang lain seperti yang pernah terjadi pada masa khalifah Umar bin Khatab, seseorang telah mencuri karena miskin, karena miskin seorang wanita yang lemah imannya berani menjual kehormatannya dan karena kemiskianan banyak orang yang terjerumus dalam kekafiran, ia rela menjual agamanya karena tuntutan hidupnya yang sulit sementara ia dijanjikan hidup yang baik dalam agama lain, karena itulah Rasulullah saw mengatakan:
Kemiskinan hampir menjerumuskan orang dalam kekafiran dan beliau selalu berlindung kepada Allah dari kekafiran dan kemiskinan. Kemiskinan memang sangat menyulitkan hidup, namun Allah telah menentukan ada manusia yang kaya dan ada manusia yang miskin sebagai ujian baginya, apakah si kaya bersyukur dengan kekayaannya dan si miskin bersabar dengan kemiskinan. Allah berfirman:
Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha melihat akan hambva-hambanya. (QS. 17:30)

2 – Beramal sebelum kaya yang menyombongkan
Kaya merupakan ujian dari Allah, apakah si kaya bersyukur dengan nikmat harta yang diberikannya, memahami harta yang ada di tangannya hanyalah amanah dari Allah, Pemilik harta yang sebenarnya, menyadari apa yang ia miliki merupakan karunia dari Allah, Ia kuasa mengambil darinya dalam sesaat. Allah berfirman:
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 35:2)
Apakah si kaya memahami bagaimana ia membelanjakan hartanya, karena pada hari kiamat nanti seseorang akan ditanyakan tentang empat hal, salah satunya tentang hartanya dari mana ia memperolehnya dan baimana ia membelanjakannya. Harta adalah ujian, jika ia berada di tangan orang yang baik maka sungguh itu suatu kenikmatan baginya. Rasulullah saw bersabda:
“Sebaik-baik harta yang baik yang dimiliki oleh orang yang baik”.
Harta membuat orang sombong sehingga tidak mau beramal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena baginya untuk apa mendekatkan diri kepada Allah sementara ia bisa melakukan apa saja yang ia sukai tanpa pertolongan Allah. Allah berfirman:
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, (QS. 96:6)
karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. 96:7)