Rabu, 20 Mei 2026

Tugas UAS Mata Kuliah Tahsin Tahfidz STIT Bustanul Ulum


Nama : Jepri Antony
NIM : 2588204041

Surat Adh-Dhuha dan Al-Insyirah

Tugas Membuat CV

CV Jepri Antony

Tentang Saya

Mahasiswa aktif Jurusan Pendidikan Bahasa Arab di STIT Bustanul Ulum. Memiliki minat dan dedikasi tinggi dalam dunia pendidikan, khususnya pengajaran Bahasa Arab. Berkomitmen untuk terus belajar dan berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam.

Pendidikan

STIT Bustanul Ulum

2026

S1 Pendidikan Bahasa Arab


SMKN 7 Jakarta

2012

Produksi Grafika

Pengalaman

Guru / Pengajar

2018 – Sekarang

Mengajar dan membimbing siswa dalam mata pelajaran Bahasa Arab dan ilmu keislaman.

Keahlian

Bahasa Arab Pengajaran Kurikulum Public Speaking Microsoft Office

Selasa, 07 April 2026

Tugas Mata Kuliah Tahsin Tahfidz STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah

 

Perkenalan Diri

* Nama Lengkap                                                                    : Jepri Antony

* Alamat                                                                                 : DKI Jakarta

* Program Studi / Semester                                                    : Pendididikan Bahasa Arab / 6

* Hobi & Minat                                                                       : Membaca

* Cita-cita / Rencana Masa Depan                                          : Guru

* Pengalaman Belajar atau Organisasi                                    : LDK

* Motivasi Pribadi                                                                   : Menjadi bermanfaat

* Harapan mengikuti Mata Kuliah Tahsin Tahfidz Quran       : Bisa membaca Al-Qur'an dengan baik

Senin, 20 April 2020

Menjadikan Visi Misi Pernikahan yang Konkrit

Alangkah baiknya setiap orang dalam hidupnya memiliki tujuan, sehingga hidupnya menjadi terukur dan terarah. Minimal bagi seorang muslim memiliki visi misi hidup untuk mencari ridho dan ampunan Allah. Karena manusia tidak diciptakan kecuali untuk beribadah hanya kepada Allah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Apalagi dalam pernikahan, visi misi pernikahan merupakan hal yang penting. Karena pernikahan adalah ibadah seumur hidup bagi keduanya. Jika dua kepala, dua pemikiran, dua pemahaman tidak dibingkai dalam satu visi misi yang sama, maka wajar bila terjadi perdebatan bahkan baku hantam. Ribut adalah makanan pokok sehari-hari. Tidak jelas mau dibawa kemana pernikahannya tersebut.

Visi misi pernikahan kebanyakan orang minimal adalah menikah untuk beribadah kepada Allah. Alhamdulillah, banyak orang yang tadinya jarang beribadah setelah menikah menjadi rajin beribadah. Sebelum ke langkah konkrit, saya coba memberikan sedikit resep agar pernikahan selalu harmonis, pun bila ada masalah, hanya masalah yang tak berarti.

Selasa, 04 Desember 2018

Jangan Remehkan Potensi Anak


Seorang anak merupakan anugerah dari Allah yang kadang tidak semua orang bisa rasakan, karena banyak diluar sana orang yang sudah menikah lama sekali tapi belum juga dikaruniakan buah hati. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak [l86] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Q.S 3:14).

Setiap anak yang Allah titipkan pada kita sudah Allah berikan bekal dan potensi untuk dia dapat bertahan hidup yang dia bawa dari lahir sampai meninggal yaitu pendengaran, penglihatan dan hati. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (Q.S 16:78).

Sabtu, 01 September 2018

*Terapi Peluk dan Reframing*

Hatiku bergetar...
Air mataku meleleh saat membaca ini...
Karena cerita ini adalah cerminan diriku di masa lalu 
Semoga menjadi hikmah....
*Terapi Peluk dan Reframing*
"Mba Noov, gimana sih caranya jadi ibu yang sabar, yang lembut, yang gak gampang marah-marah sama anak, yang gak suka nyubit."
Hmmm saya sebenarnya bingung kalo ditanya begitu. Karena dasarnya, saya itu punya bakat pemarah dan kasar. Tapi kalo boleh saya mau sharing pengalaman saya mengelola emosi yang masih berproses hingga sekarang.
Kalau yang mengikuti status saya dari dulu dulu, pasti tahu saya punya innerchild yang sedang saya sembuhkan. Alhamdulillah nya, Allah menjodohkan saya dengan seorang lelaki yang sebelumnya sudah punya 'kabel pengasuhan' yang baik dari orang tuanya. Sehingga, saya bisa belajar tentang menjadi orang tua yang lembut darinya dan keluarganya.
Perjalanan pengelolaan emosi saya berawal sejak hari pertama menikah. Suami saya, dengan tegas tapi lembut mengatakan bahwa tidak boleh ada marah-marah, bentak-bentak, teriak-teriak, atau pukul-pukul di keluarga kami. Baik untuk hubungan suami istri maupun orang tua ke anak.
Maka, saya coba pegang betuul nasihat suami saya ini. Tapii, tentu saja praktiknya tidak semudah dan semulus ituu. Saya yang dasarnya mudah marah tidak bisa serta merta jadi istri dan ibu yang lembut.
Awalnya, setiap kali mau marah, saya memilih time out. Lariiii. Bersembunyiii. Menenangkan diri sejenak agar siap menghadapi anak yang tantrum dengan senyuman. Sesaat cara ini berhasil membuat saya tidak marah-marah. Tapi kemudian, setelah lama memperhatikan, suami saya komplain.
"Kok bisa, Qairina nangis begitu mamahnya malah kabur. Menenangkan diri sendiri. Apanya yang harus ditenangkan? Siapa yang sebenarnya perlu ditenangkan?"