Sukses adalah Hak Saya: Kontribusi Sosial
Bagian ke-7 dari tulisan "Sukses Adalah Hak Saya"
Prinsip Utama 16: Kontribusi Sosial
“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain,” (Hadits Nabi Saw.)
Alkisah, di sebuah komplek perumahan menengah terdapat rumah mewah. Rumah ini adalah penggabungan dari tiga rumah sehingga luasnya menjadi 250 m2. Rumahnya pun ditingkat dengan desain interior dan eksterior kelas satu. Pagarnya pun menjulang tinggi hingga tiga meter dan benar-benar tertutup. Seolah-olah rumah itu bagai benteng berlapis. Sementara tetangga-tetangga rumahnya adalah rumah yang sederhana dengan tipe dasar 45 m2.
Rumah mewah tadi ditinggali sebuah keluarga. Katakanlah namanya Pak Angkuh dan istrinya, Bu Medit. Pak Angkuh berangkat dari rumah pagi hari dan pulang dari kantor malam hari. Sedangkan Bu Medit tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga. Bu Medit di lingkungan sosialnya terkenal sebagai Ibu yang sombong. Khususnya sombong akan kekayaan suaminya. Kemana-mana selalu memamerkan perhiasan kepada tetangganya.
Keluarga ini sangat tidak disukai oleh lingkungan sekitarnya. Selain sombong, keluarga ini terkenal pelit. Bahkan ketika ada pengurus RT yang meminta iuran untuk kebersihan dan keamanan lingkungan, Bu Medit menolaknya dengan alasan rumahnya sudah bersih dan sudah aman. Bahkan dengan sombongnya Bu Medit mengatakan bahwa rumah yang lainnya saja yang diminta karena mereka tidak mampu membuat pagar yang tinggi dan rumah yang bersih. Sumbangan-sumbangan pun ditolak oleh keluarga Pak Angkuh. Bahkan sumbangan masjid pun ditolak dengan alasan dia tidak pernah salat di masjid.
Pada hari Minggu, seluruh warga melakukan kerja bakti, kecuali keluarga Pak Angkuh. Ia menolak kerja bakti pada hari Minggu. Bahkan ia mengatakan kepada warga bahwa hari Minggu adalah hari beristirahat dan bukan waktunya untuk bekerja. Namun, keluarga Pak Angkuh terkena batunya. Ketika Pak Angkuh dan Bu Medit beserta anak-anaknya pergi berlibur ke Bali, tinggallah di rumah pembantunya. Tiba-tiba datanglah seseorang yang mengaku sebagai rekan bisnis Pak Angkuh di hadapan pembantunya. Pembantu ini semakin yakin bahwa orang asing yang datang adalah rekan bisnis majikannya, karena orang asing ini berpura-pura menelepon Pak Angkuh. Orang asing ini pun dipersilahkan masuk ke rumah. Ternyata orang asing ini membawa teman-temannya dengan dua buah mobil. Satu mobil box dan satu mobil minibus.
Ketika sang “tamu” ini dipersilahkan masuk, tiba-tiba mereka mengeluarkan senjata api dan senjata tajam. Ternyata, rekan bisnis Pak Angkuh adalah para perampok profesional. Aksi para perampok semakin leluasa karena pagar Pak Angkuh sangatlah tinggi dan tertutup sehingga perampokan ini tidak diketahui oleh tetangganya. Dalam sekejap, harta Pak Angkuh digondol oleh para perampok, sementara pembantunya dibunuh karena melakukan perlawanan. Yang lebih naasnya lagi adalah para perampok mengunci rumah dan pagar Pak Angkuh dari luar, sehingga terkesan tidak terjadi apa-apa.
Ketika pulang dari liburan, Pak Angkuh mendapati rumahnya terkunci dan tidak ada yang membukakan pintu. Pak Angkuh berpikir bahwa sang pembantu sedang tertidur. Untungnya ia membawa kunci cadangan sehingga pintu rumahnya bisa dibuka. Tetapi, begitu pintu terbuka, Pak Angkuh kaget bukan kepalang. Ternyata pembantunya sudah terkapar bersimbah darah dengan berbagai macam luka tusukan. Rumahnya pun acak-acakan dan seluruh harta yang ada di rumahnya ludes.
Pak Angkuh pun menghubungi Pak RT untuk melaporkan kejadian ini. Ia menyalahkan Pak RT karena tidak bisa menjaga lingkungannya dari para penjahat. Pak RT pun habis-habisan ia marahi. Warga yang mendengar mulai terpancing emosinya karena kemarahan Pak Angkuh kepada Pak RT. Untungnya, Pak RT bisa menenangkan warganya.
Warga yang seharusnya berempati mulai mengucapkan kata-kata: “Sukurin”, “Rasain”, “Emang enak!?” dan ucapan-ucapan kekesalan lainnya. Warga tidak ada yang peduli dengan kejadian itu dan hanya polisi yang menyelesaikan kasus ini. Ya, itulah sekelumit kisah mengenai kehidupan sosial di masyarakat kita yang bisa diambil hikmahnya.
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia berbicara yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia memuliakan tamunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar