Sabtu, 30 Juni 2018

Fenomena memberi nama anak di Indonesia


Manusia dan budaya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Adanya budaya karena adanya manusia itu sendiri. Manusia menciptakan budaya untuk memudahkan kehidupannya terutama dalam bermasyarakat. Jika ada yang tidak sesuai dengan budaya di komunitas masyarakat setempat maka akan dianggap aneh, minimal terlihat aneh. Ini hanya budaya yang normatif yah.

Salah satunya adalah budaya memanggil nama di Indonesia. Biasanya masyarakat kita memanggil nama hanya satu penggalan kata yang mudah dilafazkan, enak diucap dan enak didengar. Misalnya nama saya jefry maka saya dipanggil jef, atau missal andi dipanggi di, hasan dipanggil has atau san, rohman dipanggil man, ga mungkin roh.

Sabtu, 26 Mei 2018

Dompet Dhuafa Memberikan Harapan Masa Depan


Dompet Dhuafa memiliki program pendidikan yang diterima manfaatnya oleh anak-anak yang memiliki nasib kurang beruntung. Sehingga dengan program pendidikan Dompet Dhuafa anak-anak tersebut memiliki harapan untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik dan meraih cita-citanya. Karena angka kemiskinan di indonesia masih cukup tinggi. Anak-anak yang tidak bisa melajutkan pendidikan pun masih tinggi.

Dari media CNN Indonesia pada 18 April 2017 mengabarkan bahwa, data UNICEF tahun 2016 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Begitupula data statistik yang dikeluarkan oleh BPS, bahwa di tingkat provinsi dan kabupaten menunjukkan terdapat kelompok anak-anak tertentu yang terkena dampak paling rentan yang sebagian besar berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Sabtu, 19 Mei 2018

Untuk para orang tua, calon orang tua, kenalilah anakmu!


Seorang anak tidak pernah minta untuk dilahirkan. Ketika sudah jadi orang tua, jadilah orang tua yang baik. Kita pasti pernah jadi anak-anak, seharusnya mengerti apa keinginan anak-anak kepada orang tua. Anak-anak tidak mau dimarahi, tidak mau dibentak, tidak mau dipukul. Biasanya anak-anak yang sering dimarahi akan mudah marah ke saudaranya atau ke orang lain, kalau sering dibentak akan mudah membentak saudaranya dan orang lain, kalau sering dipukul akan mudah memukul saudaranya dan orang lain. Seorang anak hanya mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya.

kalau orang tuanya baik kaya malaikat, anaknya akan lebih lucu dan lebih baik dari malaikat. kalau orang tuanya jahat kaya iblis, anaknya akan lebih kejam dan lebih jahat dari iblis. Karena seorang anak tidak tau apa yang dilakukannya benar atau salah, yang dia tau karena orang tuanya melakukannya seperti itu.

Lah, kalau anaknya nakal gimana? Orang tua itu hanya memberikan petunjuk, memberikan arah ke jalan yang benar kepada anak. Tidak perlu marah, bentak, mukul. Sebenernya ga ada anak yang nakal, hanya anak-anak itu belum tau perbuatanya berbahayakah? Merugikankah? Negatifkah? Anak kita masih manusia kan? Masih bisa diajak ngobrol, masih bisa dikasih pengertian, masih bisa dikasih hadiah (jajan permen) terus nurut lagi, bukan ANJING, MONYET atau BABI, susahlah, binatang.

Senin, 14 Mei 2018

Kamu CINTA versi mana???


Sebenernya masalah ini sudah basi bagi saya, ketika seseorang melampiaskan rasa cintanya kemana dan seperti apa. Sepertinya udah dari sananya manusia itu ingin mencintai dan dicintai ketika dimulai masa-masa remaja terutama terhadap lawan jenis. Kalau nikah sih gapapa, permasalahannya kalau pacaran, karena awalnya saya kira pihak perempuan yang dirugikan. Tapi ternyata mereka berdua sama-sama menikmati. Yang perempuannya bahagia aja tuh, apalagi yang lakinya.

Bukan masalah ini benar atau salah. Saya kira kita disini sudah dewasa, tau lah mana yang benar dan yang salah. Dosa dan pahala tanggungan masing-masing. Mungkin ini terinspirasi dari kisah2 cinta di film. Ada yang versi FTV, versi Drakor, Versi boliwod, versi sinetron, dll. Saya tambah satu versi mungkin ini tidak ada di film, versi islam.

Kecuali islam, semua versi cinta tersebut hanyalah fiktif, mungkin dari film tersebut ada yang terinspirasi dari kisah nyata yg sudah di edit2 atau ada juga yang dari film dicontohkan oleh org yg menontonnya ke dunia nyata. Itu hak setiap orang. Tapi menurut saya versi islam lah yang memberikan kesan paling dalam. Islam itu realitas dan banyak hikmah. Tanpa embel embel pacaran dan maksiat di islam banyak pelajaran yang bisa diambil bagi org2 yang berpikir.

Saya sendiri tidak pernah pacaran, Alhamdulillah, itu diluar nalar saya, semua kehendak Allah, kenapa dan bagaimana tidak perlulah saya ceritakan kisah hidup saya. Tidak penting. Karena yang paling penting adalah kisah cinta versi islam di bawah ini:

Sabtu, 12 Mei 2018

Pendidikan Bekal Masa Depan


Menurut tokoh pendidikan indonesia, Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai masyarakat mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Manusia diciptakan oleh Allah dengan diberikan kelebihan dari makhluk lainnya dengan diberikan akal. Dengan akalnya manusia bisa berpikir dan belajar membedakan yang baik dan yang benar, mengelola lingkungan, dan menjadi khalifah untuk mengatur bumi. Belajar merupakan kewajiban setiap manusia. Setiap orang memiliki hak untuk bisa belajar, dan menjadi kewajiban setiap negara untuk menyelenggarakan pendidikan untuk mencerdaskan rakyatnya.

Hamil Ya Gitu

"Vit, istriku kan hamil, sekarang masuk RS karena ngga bisa makan. Aku stress, udah aku bilang coba makan tetep aja ngga mau. Kok, ngga kaya kamu ya. Kamu hamil masih bisa tetep kerja"
"Lah kamu stress apalagi istri kamu. Emang dia yg mau ngga bisa makan? Sekarang gini ngga usah ikutan stress, istri kamu butuh kamu. Masing-masing orang beda-beda. Kehamilan pertama sama kedua dst aja bisa beda. Jangan nyalahin dia krn ngga bisa makan. Liat kamu stress makin stress nanti dia. Uda mikirin kandungannya. Mikirin kamu juga. Emang kamu kira tidur di RS enak. Dia juga maunya bisa makan. Dia butuh support kamu"
"Ooh gitu"
-------------------------------------------------------------------
Jadi gini pak suami, jangan banding-bandingin. Masing-masing yg dialami n dirasain bumil itu beda-beda. Kek saya walaupun uda 3x hamil (2 keguguran) yang dirasa beda-beda. Kita ngga bukannya manja. Lah, emang dari sananya mau gimana lagi. Saya termasuk gampang makan tapi sejam kemudian biasanya muntah. Trus emang saya yg mau? Hamil ke 3 kemarin malahan setiap berdiri langsung flek yang akhirnya bleeding dan harus dikuret.

Minggu, 28 Mei 2017

Pentingnya optimalisasi peran pemberdayaan untuk remaja

Jefry Anthony Sastra Arab Universitas Padjadjaran 2014

Hari ini sering sekali kita saksikan tindakan kriminal yang terjadi terutama di tempat saya tinggal di Jakarta. Begal, tawuran, gangster, dan lainnya sering kita dapati melalui pemberitaan di televisi maupun di media sosial di Ibukota. Yang paling membuat sedih, kita lihat pelakunya adalah para pemuda. Seharusnya masih banyak waktu yang bisa dia gunakan untuk melakukan hal yang bermanfaat dengan sekolah atau bekerja tapi malah melakukan tindak kriminal. Sehingga menimbulkan banyak pertanyaan, dimana peran pemerintah? Dimana peran orang tua? Dimana peran guru? Dan yang paling penting dimana peran kita?

Di negeri kita banyak sekali lulusan sarjana dari S1, S2 dan S3 tapi mengapa kita merasa seperti tidak ada perubahan dengan negeri ini. Menurut Pakar pendidikan Indonesia, Arief Rachman, yang menjadi panelis dalam diskusi A Taste Of L’oreal, tersebut mengatakan bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi yang tak sesuai kebutuhan dunia industri adalah akibat kesalahan sistem pendidikan Indonesia selama 20 tahun lalu.